Be yourself; Everyone else is already taken.
— Oscar Wilde.
This is the first post on my new blog. I’m just getting this new blog going, so stay tuned for more. Subscribe below to get notified when I post new updates.
Be yourself; Everyone else is already taken.
— Oscar Wilde.
This is the first post on my new blog. I’m just getting this new blog going, so stay tuned for more. Subscribe below to get notified when I post new updates.
Bali masih menjadi destinasi favorit wisatawan dari berbagai negara dunia. Kepala Dinas Pariwisata Bali, Anak Agung Gede Yuniartha Putra mengatakan hal yang perlu dicermati pelaku pariwisata adalah rata-rata lama tinggal atau length of stay wisatawan yang masih berkisar 10,8 hari, berdasarkan data Kementerian Pariwisata.Perhitungan tersebut berdasarkan waktu kedatangan dan keberangkatan wisatawan di pintu masuk utama Bali. Namun, jika dikombinasikan dengan data BPS yang menyebut lama tamu menginap di hotel berbintang di Bali saat ini diperkirakan hanya berkisar 3-4 hari, sehingga masih ada selisih yang dicatat Kementerian Pariwisata.”Sejumlah asumsi berkembang terkait selisih data ini, antara lain asumsi bahwa sebagian wisatawan memanfaatkan waktu berwisata ke daerah tetangga Bali, seperti Lombok dan sekitarnya. Atau, mereka bisa jadi menginap di vila selama masa liburan. Ini yang masih kami dalami,” kata Yuniartha Putra, Rabu (19/7).
Pemerintah Provinsi Bali menaruh perhatian serius menyikapi hal ini sebab berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi. Wisatawan lebih sedikit membelanjakan uang mereka di Bali.Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Protokol Sekretariat Daerah Bali, I Dewa Gede Mahendra Putra mengatakan Gubernur Bali sebelumnya memaparkan pemerintah pusat menggarap sejumlah destinasi pariwisata lain di Indonesia dengan ikon ‘Bali Baru.’ Kebijakan tersebut bukan bermaksud menyaingi Pulau Dewata sebagai koridor utama pariwisata Indonesia.”Gubernur mengingatkan pelaku pariwisata lebih peka terhadap perubahan situasi, sehingga mengambil langkah antisipasi menghadapi persaingan ketat,” katanya.
Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Bali terus meningkat dari tahun ke tahun. Wisman yang datang 2010 hanya 2.49 juta orang. Angkanya naik menjadi 2,75 juta wisman pada 2011 dan 2,82 juta wisman pada 2012.Tiga tahun berikutnya, Bali kedatangan 3,27 juta wisman pada 2013, 3,76 juta wisman pada 2014, dan empat juta wisman pada 2015. Lonjakannya semakin signifikan pada 2016 mencapai 4,92 juta wisman atau dengan kata lain melonjak 23,14 persen dibanding setahun sebelumnya.PROSPEK pariwisata Indonesia pada 2019 diprediksi masih sangat menjanjikan. Hal tersebut disebabkan adanya travel propensity atau kecenderungan bepergian pada masyarakat di negara-negara sumber wisatawan mancanegara yang tumbuh positif.
Meski demikian, negara pesaing akan menciptakan
persaingan yang semakin keras dalam merebut pasar pariwisata dan itu menjadi
tantangan terbesar Indonesia. “India dan China, dua negara pengapit negara-negara
ASEAN, merupakan pasar pariwisata terbesar yang diperebutkan negara-negara
anggota ASEAN, termasuk Indonesia.
Ini menjadi tantangan terbesar bagaimana
memperebutkan pasar tersebut,” kata Tenaga Ahli Menteri Bidang Pemasaran dan
Kerja Sama Pariwisata, Kementerian Pariwisata (Kemenpar), Prof I Gde Pitana
dalam seminar Road to ITO (Indonesia Tourism Outlook) 2019 di Sekolah Tinggi
Pariwisata (STP) Bandung, Rabu, (10/10).
Dia menuturkan, persaingan saat ini sangat ketat, terutama dalam merebut wisatawan milenial dengan strategi promosi digital yang bergerak cepat. Menurutnya, ada lima hal yang harus menjadi perhatian untuk meneropong pariwisata tahun depan, yakni kondisi pasar, khususnya pasar utama (pertumbuhan ekonomi), kesiapan destinasi, kondisi sosial-ekonomi-politik Indonesia, serta isu dan persepsi tentang terorisme dan perilaku negara pesaing.
“Dari lima hal yang menjadi perhatian tersebut, yang menjadi tantangan terbesar adalah perilaku negara pesaing. Banyak negara berusaha menjadikan Indonesia sebagai pasar utama mereka, seperti Selandia Baru yang memberikan insentif bagi pelaku bisnis pariwisata di sana bila berhasil menarik wisman dari negeri kita,” ungkap I Gde Pitana.
Dia memaparkan, saat ini Jepang telah menjadikan wisata halal untuk merebut pasar pariwisata di Asia. Sementara Vietnam sudah membuat “Bali Baru” sebagai destinasi unggulan mereka dalam upaya memenangi persaingan di kawasan pasar ASEAN, khususnya dengan Indonesia.
Sekretaris Deputi Bidang Pemasaran Pariwisata I Kemenpar Edy Wardoyo menambahkan, kemajuan pariwisata Indonesia sudah sangat luar biasa dan era milenial akan menjadi tantangan tersendiri.
5 Tempat Destinasi Wisata Yang bersiap bersaing :





Saya memilih usaha membuka restorant untuk mecoba peruntungan baru dengan membuka restoran merupakan ide cemerlang. Usaha di bidang kuliner seperti ini memang sangat menguntungkan. Tak sedikit jumlah pengusaha yang sukses dengan membuka restoran. Disebabkan, di zaman seperti sekarang ini, orang-orang lebih suka sesuatu yang praktis termasuk dalam masalah mengisi perutnya.
Bisnis restoran merupakan salah satu peluang usaha yang dapat dijalankan oleh siapapun, termasuk Anda. Banyak yang bisa diharapkan oleh bisnis ini, khususnya Anda yang baru ingin terjun dalam dunia bisnis. Selain dapat dimulai dengan modal yang minim, bisnis restoran tak membutuhkan waktu lama modal awal diproyeksikan sudah bisa tertutup (balik modal).
Tak dipungkiri, untuk terjun langsung dalam dunia bisnis tak semudah membalikkan telapak tangan. Perlu perencanaan yang matang untuk memulainya. Oleh sebab itu, strategi sangat lah dibutuhkan ketika menjalankan sebuah bisnis, termasuk membuka restoran. Adapun strategi atau perkembangan yang saja jalankan antara lain :
Survei
Melalkukan survei di sekitar lokasi yang akan dibangun restoran dan mencermatii bisnis sejenis di daerah sekitar. Mencatat kekurangan dan kelebihan
Menentukan jenis makanan
Sebelum memilih lokasi rumah makan, saya akan harus sudah tahu apa yang akan disajikan. Karena makanan yang akan saya sajikan bisa saja menjadi identitas dari restoran nantinya. Dengan menu yang unik tersebut, restoran akan cepat dikenal oleh para konsumen. Oleh sebab itu, mentukan dengan cermat jenis makanan apa yang akan disajikan untuk konsumen.
Tempat yang Strategis
Tempat yang strategis adalah salah satu yang sangat menentukan berhasil tidaknya sebuah bisnis restoran. Tempat yang dilewati banyak orang merupakan salah satu lokasi yang sangat menguntungkan. Karena itu cermatlah dalam memilih lokasi. Jangan sampai semua rencana tidak berjalan dengan baik hanya karena lokasi restoran tidak strategis.
Mentukan Target Market
Penentuan ini berhubungan dengan harga, lokasi jual, media promosi, dan bagaimana produknya. Perlu menentukan siapa sasaran konsumen ke depannya, berapa uang mereka yang bisa dikeluarkan, dan kenapa mereka mau membeli. Tentu media promosi yang sesuai, serta kemudahan bagi konsumen juga perlu dipikirkan.
Nikmati Prosesnya
Tidak ada yang berhasil secara mendadak. Segala sesuatu pasti ada prosesnya dan proses tersebut tidak selalu memuaskan. Ada kalanya menemui kendala yang menghambat perkembangan dalam bisnis. Jadi sebelum menemui kendala tersebut, wajib hukumnya untuk mempersiapkan mental dari jauh-jauh hari. Jadi, nikmatilah segala prosesnya.
Tetap Menjaga Semangat
Biasanya bisnis seperti restoran saya akan bersemangatnya memuncak ketika pengunjung sedang ramai. Tapi juga harus persiapkan diri jika restoran sedang sepi, itu berarti ada yang salah di dalamnya. Memukan hal yang salah tersebut dan segera perbaiki. Semangat dibutuhkan di setiap proses, bukan hanya ketika sedang maju, tetapi juga ketika mengalami kemunduran.
seperti foto restoran dibawah ini yang ingin saya buat :




Jenis makanan yang akan saya jual :

Revolusi industri generasi keempat ini ditandai dengan kemunculan superkomputer, robot pintar, kendaraan tanpa pengemudi, editing genetik dan perkembangan neuroteknologi yang memungkinkan manusia untuk lebih mengoptimalkan fungsi otak. Hal inilah yang disampaikan oleh Klaus Schwab, Founder danExecutive Chairman of the World Economic Forumdalam bukunya The Fourth Industrial Revolution.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengubah dunia sebagaimana revolusi generasipertama melahirkan sejarah ketika tenaga manusia dan hewan digantikan oleh kemunculan mesin. Salah satunya adalah kemunculan mesin uap pada abad ke-18. Revolusi ini dicatat oleh sejarah berhasil mengereknaik perekonomian secara dramatis di mana selama dua abad setelah Revolusi Industri terjadi peningkatan rata-rata pendapatan perkapita Negara-negara di dunia menjadi enam kali lipat.
Berikutnya, pada revolusi industri generasi kedua ditandai dengan kemunculan pembangkit tenaga listrik dan motor pembakaran dalam (combustion chamber). Penemuan ini memicu kemunculan pesawat telepon, mobil, pesawat terbang, dll yang mengubah wajah dunia secara signifikan. Kemudian, revolusi industri generasi ketiga ditandai dengan kemunculan teknologi digital dan internet.
Selanjutnya, pada revolusi industri generasi keempat, seperti yang telah disampaikan pada pembukaan tulisan ini, telah menemukan pola baru ketika disruptif teknologi (disruptive technology) hadir begitu cepat dan mengancam keberadaan perusahaan-perusahaanincumbent. Sejarah telah mencatat bahwa revolusi industri telah banyak menelan korban dengan matinya perusahaan-perusahaan raksasa.
Lebih dari itu, pada era industri generasi keempat ini, ukuran besar perusahaan tidak menjadi jaminan, namun kelincahan perusahaan menjadi kunci keberhasilan meraih prestasi dengan cepat. Hal ini ditunjukkan oleh Uber yang mengancam pemain-pemain besar pada industri transportasi di seluruh dunia atau Airbnb yang mengancam pemain-pemain utama di industri jasa pariwisata. Ini membuktikan bahwa yang cepat dapat memangsa yang lambat dan bukan yang besar memangsa yang kecil. Oleh sebab itu, perusahaan harus peka dan melakukan instrospeksi diri sehingga mampu mendeteksi posisinya di tengah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebagai panduan untuk melakukan introspeksi diri, McKinsey&Company memaparkannya dalam laporan berjudul An Incumbent’s Guide to Digital Disruption yang memformulasikan empat tahapan posisi perusahaan di tengah era disruptif teknologi.
Tahap pertama, sinyal di tengah kebisingan (signalsamidst the noise). Pada tahun 1990, Polygram dicatat sebagai salah satu perusahaan recording terbesar di dunia. Namun, pada 1998 perusahaan ini dijual ketika teknologi MP3 baru saja ditemukan sehingga pemilik masih merasakan puncak kejayaan Polygram pada saat itu dan memperoleh nilai (value) penjualan yang optimal.
Contoh lainnya adalah industri surat kabar tradisional yang mengejar oplah dan pemasukan dari pemasangan iklan. Kemunculan internet yang mengancam dimanfaatkan oleh Schibsted, salah satu perusahaan media asal Norwegia yang menggunakan internet untuk mengantisipasi ancaman sekaligus memanfaatkan peluang bisnis.
Perusahaan ini melakukan disruptif terhadap bisnis inti mereka melalui media internet yang akhirnya menjadi tulang punggung bisnis mereka pada kemudian hari. Pada tahap ini, perusahaan (incumbent) merespons perkembangan teknologi secara cepat dengan menggeser posisi nyaman dari bisnis inti yang mereka geluti mengikuti tren perkembangan teknologi, preferensi konsumen, regulasi dan pergeseran lingkungan bisnis.
Tahap kedua, perubahan lingkungan bisnis tampak lebih jelas (change takes hold). Pada tahap ini perubahan sudah tampak jelas baik secara teknologi maupun dari sisi ekonomis, namun dampaknya pada kinerja keuangan masih relatif tidak signifikan sehingga belum dapat disimpulkan apakah model bisnis baru akan lebih menguntungkan atau sebaliknya dalam jangka panjang. Namun, dampak yang belum signifikan ini ditanggapi secara serius oleh Netflix tahun 2011 ketika menganibal bisnis inti mereka yakni menggeser fokus bisnis dari penyewaan DVD menjadi streaming.Ini merupakan keputusan besar yang berhasil menjaga keberlangsungan perusahaan pada kemudian hari sehingga tidak mengikuti kebangkrutan pesaingnya, Blockbuster.
Tahap ketiga, transformasi yang tak terelakkan (the inevitable transformation). Pada tahap ini, model bisnis baru sudah teruji dan terbukti lebih baik dari model bisnis yang lama. Oleh sebab itu, perusahaanincumbent akan mengakselerasi transformasi menuju model bisnis baru. Namun demikian, transformasi pada tahap ini akan lebih berat mengingat perusahaanincumbent relatif sudah besar dan gemuk sehingga tidak selincah dan seadaptif perusahaan-perusahaan pendatang baru (startup company) yang hadir dengan model bisnis baru. Oleh sebab itu, pada tahap ini perusahaan sudah tertekan pada sisi kinerja keuangan sehingga akan menekan budget bahkan mengurangi beberapa aktivitas bisnis dan fokus hanya pada inti bisnis perusahaan incumbent.
Tahap keempat, adaptasi pada keseimbangan baru (adapting to the new normal). Pada tahap ini, perusahaan incumbent sudah tidak memiliki pilihan lain selain menerima dan menyesuaikan pada keseimbangan baru karena fundamental industri telah berubah dan juga perusahaan incumbent tidak lagi menjadi pemain yang dominan. Perusahaan incumbenthanya dapat berupaya untuk tetap bertahan di tengah terpaan kompetisi.
Pada tahap inipun para pengambil keputusan di perusahaan incumbent perlu jeli dalam mengambil keputusan seperti halnya Kodak yang keluar lebih cepat dari industry fotografi sehingga tidak mengalami keterperosokan yang semakin dalam. Berangkat dari tahapan-tahapan ini seyogianya masing-masing perusahaan dapat melakukan deteksi dini posisi perusahaan sehingga dapat menetapkan langkah antisipasi yang tepat.
Tantangan terberat justru kepada para market leader di mana biasanya merasa superior dan merasa serangan disruptif hanya ditujukan kepada kompetitor minor yang kinerjanya tidak baik. Oleh sebab itu, perusahaanincumbent perlu terus bergerak cepat dan lincah mengikuti arah perubahan lingkungan bisnis dalam menyongsong era revolusi industri generasi keempat (Industry 4.0). Reed Hasting, CEO Netflix pernah mengatakan bahwa jarang sekali ditemukan perusahaan mati karena bergerak terlalu cepat, namun sebaliknya yang seringkali ditemukan adalah perusahaan mati karena bergerak terlalu lambat.





sumber :
Banyak kalangan menyebut anak-anak muda zaman now sebagai generasi millennial. Generasi ini lahir setelah zaman generasi X, atau tepatnya pada kisaran tahun 1980 sampai tahun 2000-an. Jadi dapat diperkirakan bahwa saat ini generasi millennial memiliki rentang usia 17 hingga 37 tahun. Di Indonesia sendiri, terdapat sekitar 80 juta orang yang berusia antara 17 hingga 37 tahun. Jumlah tersebut sangat banyak dan signifikan, mengingat populasi generasi millennial sudah mencakup 30 persen dari total penduduk di Indonesia.
Berdasarkan berbagai kajian dan penelitian yang telah dilakukan terhadap generasi millennial, ditemukan banyak perbedaan antara generasi ini dengan generasi-generasi yang lebih tua, seperti generasi silent, generasi boomer, maupun generasi X.
Kehidupan generasi ini tidak bisa dilepaskan dari teknologi dan internet, berbeda dengan generasi X di mana pengaruh dari teknologi belum terlalu menonjol seperti saat ini. Generasi millennial lahir ketika handphone dan media sosial mulai muncul di Indonesia, sehingga wajar apabila generasi ini lebih melek teknologi dibanding generasi-generasi sebelumnya. Ada pula perbedaan lain yang muncul antara generasi millennial dengan generasi-generasi sebelumnya, yaitu terkait dengan masalah budaya/ gaya hidup sehari-hari. Selain karakteristik yang sudah dijelaskan di atas, generasi millennial juga memiliki sifat yang lebih toleran terhadap sesamanya. Hal ini dipengaruhi oleh arus globalisasi yang semakin cepat, di mana anak muda zaman now dapat berinteraksi dengan manusia dari berbagai belahan dunia.
Tingginya tingkat mobilitas antar negara sebagai dampak dari globalisasi dan dibentuknya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada tahun 2015 menyebabkan persaingan untuk dapat survive di dunia ini menjadi lebih keras. Oleh karena itu, sebagai generasi penerus bangsa, generasi millennial di Indonesia tidak boleh kalah dalam persaingan dengan anak-anak muda dari negara lain. Pendidikan yang tinggi saja ternyata tidak cukup, anak muda Indonesia zaman now harus dibekali dengan berbagai pengalaman dan soft skills yang baik. Untuk menjadi anak muda zaman now yang kreatif, aktif, dan inovatif kita perlu membiasakan diri untuk melakukan aktivitas-aktivitas/ pola hidup berikut ini di dalam kehidupan kita:
This is an example post, originally published as part of Blogging University. Enroll in one of our ten programs, and start your blog right.
You’re going to publish a post today. Don’t worry about how your blog looks. Don’t worry if you haven’t given it a name yet, or you’re feeling overwhelmed. Just click the “New Post” button, and tell us why you’re here.
Why do this?
The post can be short or long, a personal intro to your life or a bloggy mission statement, a manifesto for the future or a simple outline of your the types of things you hope to publish.
To help you get started, here are a few questions:
You’re not locked into any of this; one of the wonderful things about blogs is how they constantly evolve as we learn, grow, and interact with one another — but it’s good to know where and why you started, and articulating your goals may just give you a few other post ideas.
Can’t think how to get started? Just write the first thing that pops into your head. Anne Lamott, author of a book on writing we love, says that you need to give yourself permission to write a “crappy first draft”. Anne makes a great point — just start writing, and worry about editing it later.
When you’re ready to publish, give your post three to five tags that describe your blog’s focus — writing, photography, fiction, parenting, food, cars, movies, sports, whatever. These tags will help others who care about your topics find you in the Reader. Make sure one of the tags is “zerotohero,” so other new bloggers can find you, too.