Bali masih menjadi destinasi favorit wisatawan dari berbagai negara dunia. Kepala Dinas Pariwisata Bali, Anak Agung Gede Yuniartha Putra mengatakan hal yang perlu dicermati pelaku pariwisata adalah rata-rata lama tinggal atau length of stay wisatawan yang masih berkisar 10,8 hari, berdasarkan data Kementerian Pariwisata.Perhitungan tersebut berdasarkan waktu kedatangan dan keberangkatan wisatawan di pintu masuk utama Bali. Namun, jika dikombinasikan dengan data BPS yang menyebut lama tamu menginap di hotel berbintang di Bali saat ini diperkirakan hanya berkisar 3-4 hari, sehingga masih ada selisih yang dicatat Kementerian Pariwisata.”Sejumlah asumsi berkembang terkait selisih data ini, antara lain asumsi bahwa sebagian wisatawan memanfaatkan waktu berwisata ke daerah tetangga Bali, seperti Lombok dan sekitarnya. Atau, mereka bisa jadi menginap di vila selama masa liburan. Ini yang masih kami dalami,” kata Yuniartha Putra, Rabu (19/7).
Pemerintah Provinsi Bali menaruh perhatian serius menyikapi hal ini sebab berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi. Wisatawan lebih sedikit membelanjakan uang mereka di Bali.Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Protokol Sekretariat Daerah Bali, I Dewa Gede Mahendra Putra mengatakan Gubernur Bali sebelumnya memaparkan pemerintah pusat menggarap sejumlah destinasi pariwisata lain di Indonesia dengan ikon ‘Bali Baru.’ Kebijakan tersebut bukan bermaksud menyaingi Pulau Dewata sebagai koridor utama pariwisata Indonesia.”Gubernur mengingatkan pelaku pariwisata lebih peka terhadap perubahan situasi, sehingga mengambil langkah antisipasi menghadapi persaingan ketat,” katanya.
Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Bali terus meningkat dari tahun ke tahun. Wisman yang datang 2010 hanya 2.49 juta orang. Angkanya naik menjadi 2,75 juta wisman pada 2011 dan 2,82 juta wisman pada 2012.Tiga tahun berikutnya, Bali kedatangan 3,27 juta wisman pada 2013, 3,76 juta wisman pada 2014, dan empat juta wisman pada 2015. Lonjakannya semakin signifikan pada 2016 mencapai 4,92 juta wisman atau dengan kata lain melonjak 23,14 persen dibanding setahun sebelumnya.PROSPEK pariwisata Indonesia pada 2019 diprediksi masih sangat menjanjikan. Hal tersebut disebabkan adanya travel propensity atau kecenderungan bepergian pada masyarakat di negara-negara sumber wisatawan mancanegara yang tumbuh positif.
Meski demikian, negara pesaing akan menciptakan
persaingan yang semakin keras dalam merebut pasar pariwisata dan itu menjadi
tantangan terbesar Indonesia. “India dan China, dua negara pengapit negara-negara
ASEAN, merupakan pasar pariwisata terbesar yang diperebutkan negara-negara
anggota ASEAN, termasuk Indonesia.
Ini menjadi tantangan terbesar bagaimana
memperebutkan pasar tersebut,” kata Tenaga Ahli Menteri Bidang Pemasaran dan
Kerja Sama Pariwisata, Kementerian Pariwisata (Kemenpar), Prof I Gde Pitana
dalam seminar Road to ITO (Indonesia Tourism Outlook) 2019 di Sekolah Tinggi
Pariwisata (STP) Bandung, Rabu, (10/10).
Dia menuturkan, persaingan saat ini sangat ketat, terutama dalam merebut wisatawan milenial dengan strategi promosi digital yang bergerak cepat. Menurutnya, ada lima hal yang harus menjadi perhatian untuk meneropong pariwisata tahun depan, yakni kondisi pasar, khususnya pasar utama (pertumbuhan ekonomi), kesiapan destinasi, kondisi sosial-ekonomi-politik Indonesia, serta isu dan persepsi tentang terorisme dan perilaku negara pesaing.
“Dari lima hal yang menjadi perhatian tersebut, yang menjadi tantangan terbesar adalah perilaku negara pesaing. Banyak negara berusaha menjadikan Indonesia sebagai pasar utama mereka, seperti Selandia Baru yang memberikan insentif bagi pelaku bisnis pariwisata di sana bila berhasil menarik wisman dari negeri kita,” ungkap I Gde Pitana.
Dia memaparkan, saat ini Jepang telah menjadikan wisata halal untuk merebut pasar pariwisata di Asia. Sementara Vietnam sudah membuat “Bali Baru” sebagai destinasi unggulan mereka dalam upaya memenangi persaingan di kawasan pasar ASEAN, khususnya dengan Indonesia.
Sekretaris Deputi Bidang Pemasaran Pariwisata I Kemenpar Edy Wardoyo menambahkan, kemajuan pariwisata Indonesia sudah sangat luar biasa dan era milenial akan menjadi tantangan tersendiri.
5 Tempat Destinasi Wisata Yang bersiap bersaing :




